Sabtu, 09 Januari 2016

Surat perpisahan

Dik,
tak ku sesali perpisahan kita
sebab kerinduanku yang dalam padamu
membangkitkan gairah,
mengobarkan amarah yang membunuh sepi
mengobarkan kebencian akan kehidupan
dan zaman yang edan ini

Memang dik,
perpisahan kita menorehkan luka
bagiku juga bagimu
namun waktu yang pernah kita lalui
selalu menyimpan hikmah
sebab perjumpaan kita tak mungkin sia-sia

Kini,
kesepian menemaniku
menyusuri liku dan terjal kehidupan,
kehidupan yang sempat aku lupakan!
Aku harus turut ambil bagian dik,
menerima pangilan nurani,
menyuarakan kemanusiaan

Dik,
Jangan kau sesali perpisahan kita
dan biarkan ada kerinduanmu kepadaku
walau hanya sedikit
agar tak punah impianku
karena impianku akan kehidupan,
tentang perubahan dan kesejahteraan
sempat hinggap di jiwamu

Sudah ya dik,
aku tak sanggup membebanimu
dengan segenap kegelisahanku
biarkan sepi yang menemaniku
dan gelap yang kembali setia kepadaku
cukup doamu ku tunggu
bersama hempasan badai dan angin muson
yang mungkin menghalangi perjalanku nanti

Kamis, 07 Januari 2016

Kisah kita

Dalam gelap kini
Ku meratapi bait-bait
Kisah kita
Penuh luka, kegelisahan,
Kerinduan dan kebahagiaan

Ku terjebak dalam lamunan
Dalam lantunan melodi
Kisah kita
Menghanyutkan, kesepian,
Dalam sedih dan keterasingan

Bersama gelap dan lamunan
Ku coba merangkai cerita
Kisah kita
Tak ada kata, sunyi,
Menguapkan semua nostalgia

Sudahlah dik,

Lebih baik aku sudahi
Sisa gelap ini
Bersama kisah ku
Yang luka dan gelisah
Akan dunia walau dalam keterasingan

Kamis, 28 Januari 2010

Sajak dari seberang

Kala hujan turun
menampakankan wajah peluh dan kusam
dan membunuh keramaian

maka saat itu
ingin kutuliskan sajak ini
dengan tetes air hujan

Sajak ini akan tetap ku tulis
walau lembaran kosong ini sudah teramat lembab
walau tintaku hanya rintik air hujan ini

Hujan semakin deras
tampak semakin jelas wajah itu
kesepian, dan merindu cahaya

segera ku hapuskan rintik hujan itu
ku gantikan dengan tinta dari tetesan air mataku
yang merasakan kesedihan dan kesepian itu

Perlahan hujan berubah gerimis
Ku akhiri sajak ini dengan senyuman
dan lebam di wajah

Kala awan cerah sore ini, selepas hujan
Ku yakinkan kan akan menampakan wajah ceria mu
dan sajak akan ku tuliskan lagi
dengan tinta biru dari hamparan laut
yang membentangkan jarak...

11 Nov, 2009

Jumat, 04 Desember 2009

Kesiapan aktor terhadap Ruang Publik

Pada dasarnya aktor yang baik harus cerdas, rajin dan gigih, syarat-syarat yang mutlak untuk dimiliki oleh seorang yang hendak mengklaim dirinya dengan “jenis kelamin” aktor. Dalam penyelenggaraan Festival Monolog 2 FTI di ruang-ruang publik, kriteria-kriteria di atas dapat terlihat dengan sangat jelas dalam eksekusi pementasan para aktor, seperti kecerdasan aktor akan teruji ketika dia harus menafsir kata ruang publik hingga mampu mengeksplorasi segala kemungkinan bentuk konsep yang cocok untuk kedekatannya dengan ruang dalam melakukan seni pemeranan atau dalam hal ini melakukan monolog.

Pada perhelatan Festival Monolog 2 FTI kali ini, yang diikuti oleh 17 peserta menghasilkan keragaman konsep yang ditafsir para monologer terhadap ruang publik, sehingga juri mengklasifikasi bahwa terdapat 3 kecenderungan para kreator dalam konsep pemanggungannya ;
1. Konsep pemanggungan dalam sebuah plot yang cukup jelas namun sangat mengandalkan spontanitas dan keadaan dari ruang yang dipilih. Dalam konsep ini dilakukan oleh hampir sebagian aktor seperti Matroji, Herlina Syarifudun, dll.
2. Konsep pemanggungan yang mencoba cair dengan memperkenalkan kepada khalayak peristiwa yang akan di buatnya (istilah Yosef G, “bentuk tradisi”). Seperti yang dilakukan oleh Apito Lahire dan Pepeng.
3. Konsep yang bisa dikatakan asyik pada diri sendiri, dimana actor mencoba merepresentasi narasi personal. Bentuk seperti ini dilakukan oleh Sir Ilham dan Lucky Moniaga.
Konsep secara keseluruhan para aktor hampir semuanya baik walau ada juga beberapa yang hanya memindahkan pertunjukan dari panggung ke ruang eksternal panggung.

Tidak sampai pada konsep, para aktor dalam eksekusinya sangat dituntut untuk siap dalam menghadapi ruang yang sangat besar dan juga perubahan-perubahan yang mungkin saja terjadi setiap saat. Hal ini yang membuat kesimpulan para juri dalam menilai bagaimana kesiapan aktor dalam mengikuti Festival Monolog ini, dan juga kegigihan sang aktor dalam melatih dirinya dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan khususnya dalam berperan di ruang publik.
Untuk itu Festival Monolog FTI sangat penting dilakukan karena mampu menelurkan para aktor-aktor muda yang siap pakai seperti tahun 70 dan 80-an. Serta Festival monolog di ruang-ruang publik ini juga menjadi menarik karena sangat banyaknya kemungkinan yang dapat terjadi dan tempat menguji kesiapan aktor yang “membumi”. Dalam targetnya festival monolog di ruang publik ini juga membuat tidak adanya pembatas antara masyarakat terhadap kesenian (teater khususnya), dan tidak menjadi asing bagi masyarakat.

Jakarta, 30 November 2009


Ahmad Olie Sopan

Senin, 26 Oktober 2009

Pertanyaan terakhir buat kamu

kecepatan bis yang kutumpangi sudah sampai pada batas maksimalnya di jalan bebas hambatan, tapi tidak secepat tempo-ritme batinku saat ini yang sedari malam bergejolak kencang. Semenjak beberapa tahun lalu aku tidak pernah menumpangi bis lagi di pagi hari seperti ini, seperti waktu kuliah dulu, entah sudah berapa lama, mungkin tahunan! Yah rutinitasku berubah 180 derajat semenjak memilih hidup sebagai seniman seperti saat ini. Terlihat kembali dengan jelas wajah-wajah orang dalam bis ini yang berpenampilan perlente yang tak lain para pegawai (wajah-wajah yang tak lebih dari sekedar angka) yang sedang menuju perkantoran di kawasan sudirman dan sekitarnya, mungkin hanya aku yang terlihat aneh, dengan setelan jeans butut, kemeja hitam, rambut gondrong dan wajah kucel setelah semalaman tidak bias tidur dan menangis. Yah menangis! Mungkin hingga saat ini aku masih menangis walau hanya di hati, setelah pesan singkat semalam yang tidak mau di akhiri dengan percakapan yang baik.
Sepanjang perjalalan mataku menerawang terus ke jalan tol dalam kota itu dimana ribuan kendaran roda empat dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam itu saling berkejaran dengan matahari yang sudah tak sabar lagi menampakan wajahnya disela-sela gedung pencakar langit. Disela-sela perhatianku pada pemandangan itu melintas sebuah mobil kijang kapsul berwarna silver yang tak asing lagi dipikiranku, yah mobil itu mobil ayahnya yang selalu menghalangi motorku untuk parkir di depan rumah dia. Kuperhatikan dengan jelas setiap sudut mobil itu, tuk memastikan penglihatanku, kuterawang ke balik kacanya, yah betul itu mobil ayahnya dan dia berada di dalam mobil itu duduk dengan wajah tertunduk di samping pengemudi yang tak lain ayahnya itu, dan tidak lama kemudian menghilang ditelan kecepatan arus bersama kendaraan-kendaraan yang lain, namun kecepatan bis yang ku tumpangin ini serasa semakin melambat…oh rasanya ingin ku gantikan supir bis ini dan melajukan angkutan massal ini lebih cepat sehingga mampu menyusul mobil itu.
Sesampai nya di tempat tujuan aku langsung mengirimkan sms kepada dia dan katakan kalau aku berada di depan kantornya dan meminta dia untuk turun menemuiku. Kemudian ku mulai menghitung detak jantung yang mulai ku atur agar tidak emosi saat pertemuan nanti. Sudah 30 menit berlalu dan beberapa sms yang mengatakan aku tak akan pulang sebelum bertemu dia dan telp yg tidak diangkat-angkat aku layangkan lagi kepadanya namun tetap tidak ada yang menampakan wajahnya di depanku. Tiba-tiba suara HP ku berbunyi, pasti sms balasan dari dia cepat-cepat kubaca “ak msh di tol maaf, td ak tdr di mbl n ga tau ada sms dr km. mang mau apa lagi sih? kan smlm dah ak jlasin klu ak ga mau bhas ini dulu. yah dah tngg bntar lg ak ampe”. Kalimat yang janggal untuk sebuah solusi dan penglihatanku satu jam yang lalu di bis, -dia berbohong- walau tidak mematahkan semangatku untuk tetap menunggu.
Memang tidak lama kemudian dia hadir di hadapanku, namun kehadirannya hanya untuk mengucap beberapa kalimat singkat “aku ngak mau bahas masalah ini sekarang, aku pusing, sebaiknya kamu pulang sekarang, jangan bertindak bodoh seperti ini” kalimat yang janggal lagi! untuk sebuah solusi dari pertanyanku, namun aku turuti perkataannya, yah kuturuti kareana hatiku selalu luluh setiap melihat wajahnya apalagi dengan raut wajah berkabut seperti itu.
Dengan langkah gontai aku berjalan meninggalkan dia, entah mau kemana, rasanya aku ingin menyendiri, menceritakan segala kegundahan ini dan bertanya kepaada semesta apa semuanya berakhir seperti ini? Apa semua rencanaku yang telah diketahui hampir semua kolega dan keluargaku harus kandas sampai sini? Apa janji-janji hidup bersama yang terlontar beberapa waktu yang lalu hanya bohong belaka? Apa permintaan keluarganya bebapa hari yang lalu, hanya karangan belaka? Dan ku terus berjalan tanpa tujuan, tanpa akhir yang jelas, yah tanpa akhir yang jelas bahkan dalam kehidupanku selanjutnya.
Karena masih banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak dapat aku jawab dengan akal ini, semua yang tidak pernah nyata ini…

Jakarta, 25 september 2009

Percakapan Malam

jakarta, 24 september 2009


tak tau bagaimana cara malam berbicara kepada ku
kami seperti melakukan sebuah percakapan yang intim
tentang
kerasnya air
nikmatnya dingin
murahnya vagina
merdunya rayuan waria
lembutnya tanah beralas tikar
oh, betapa terpesonanya aku setiap percakapan ini terjadi,
tak tau bagaimana cara malam berbicara kepada ku,
ia berbincang bagai seorang ibu memberi nasehat kepada anaknya
ia berbincang bagai seorang guru mengajari muridnya
ia berbincang bagai seorang ustadz menceramahi santrinya,
ia berbincang bagai seorang kekasih yang memotivasi,
ia berbincang lewat suara angin, embun dingin dalam kegelapannya.

meninggalkan hari

jakarta, 24 september 2009


entah kemana perginya malam
yang mampu melelapkan manusia
ketika aku mulai lagi
membaca namamu,
membayangkan wajahmu,
juga mencium wangi tubuhmu.

kapan datangnya pagi
yang bersemangat dan membosankan
ketika aku mulai lagi
haus sesebotol vodka,
merasa kantong ini setebal kantong bandar judi,
juga tertarik tubuh si Titin, Fia, Susy dan psk-psk jalanan itu.

tunggulah aku hai sore!!!
setelah siang yang memekikan telinga
dan menyilaukan mata,
saat ini ku sedang!
menghapus namanya tuk ku tulis lagi esok.
saat ini ku sedang!
membayangkan surga sesaat sebelum wajahnya terlintas lagi.
saat ini ku sedang!
mencampurkan banyak bau agar malam baunya terasa berbeda lagi.

Jumat, 23 Oktober 2009

Eksperimentasi dalam Labo(tarium) Teater FTI, sudah benarkah?

Pada dasarnya sebuah karya haruslah bertendensi, atau dapat juga saya katakan hasil dari sebuah karya harus revolusioner dalam merubah cara berpikir publik terhadap situasi budaya, sosial & politiknya. Untuk itu para pekerja seni haruslah meyakini dahulu bahwa karyanya adalah sebuah kebenaran, yang dapat ditemukan dalam proses.

Lalu bagaimana cara menghasilkan karya yang revolusioner? Jawabannya yah tentu proses penciptaan karya itu sendiri. Dan “eksperimentasi” adalah sebuah cara yang tepat untuk menghasilkan sebuah karya yang revolusioner, yang dimana Federasi Teater Indonesia (FTI) saat ini mencoba memfasilitasi para seniman yang sedang bereksperimentasi untuk menghasilkan sebuah karya (yang diharapkan oleh Federasi Teater Indonesia memiliki visioner pada masyarakat).

Labo teater Federasi Teater Indonesia yang telah terlaksana 4 (empat) kali, hingga saat ini belum menghasilkan apa-apa bagi saya! Apa yang salah? Kesalahan mungkin dari pemahaman para teman-teman seniman (teaterawan), yang kurang mengerti tentang konsep eksperimentsi atau FTI sebagai fasilitator kurang sosialisai (tapi wacana ini pernah juga dihabas dalam sebuah forum FTI).

Mungkin pada kesempatan ini saya akan coba paparkan pemahaman tentang konsep eksperimentasi (Labo) yang saya pahami dalam proses kerja di sebuah laboratorium. Dimana calon pencipta (ilmuwan, seniman, dll) memiliki kegelisahan terhadap sebuah realitas (pada titik nadir) yang di lihat dan berusaha mencari solusi dengan cara melakukan riset pengumpulan data dengan cara observasi (hal yang lumrah dilakukan para seniman) untuk dapat melihat secara detail realitas yang sebenarnya, kemudian hasil riset itu diteliti secara seksama untuk mendapatkan sebab terciptanya realitas itu. Setelah penyebab realitas itu ditemukan tugas selanjutnya adalah mencari ramuan-ramuan dari berbagai peradaban untuk dijadikan sebuah racikan yang mujarab dalam mengatasi realitas tersebut. Tidak sampai disitu, sebelum racikan itu di konsumsi publik sebagai sebuah kebenaran harus juga dilakukan penge-tes-an oleh para ahli juga untuk mendukung kebenaran yang kita buat (pada titik inilah Labo FTI seharusnya dilakukan). Cukup mudah bukan? walau memang butuh ketelitian dan kesabaran yang panjang!

Lalu bagaimana dengan eksperimentasi yang dilakukan Teater Ikat 316 dalam Labo FTI yang terakhir kali, kemarin malam? Dalam sesi pembahasan setelah pertunjukan yang menghadirkan Udin mandarin dan Madin Tyasawan banyak membahas masalah yang masih teknis pembuatan karya (memang menjadi pekerjaan rumah bagi FTI dalam menentukan peserta), bukan menguji eksperimentsi yang sedang dilakukan untuk dinyatakan kebenarannya, mungkin memang jauh untuk dari titik penge-tes-an, yah karena menurut pengamatan saya penyajian Teater Ikat baru pada tahap kegelisahan, dimana disampaikan juga pada sinopsis yang dibagikan. Hingga tidak salah jika para pembahas dan penonton yang memberi komentar masih berbicara masalah teknis, yang juga dijawab dengan rendah hati oleh sutradara bahwa ini kekurangan pengalaman dan para hadirin pun akan memaklumi lalu apa akan ada lagi pemakluman jika ini sudah berlabel sebuah karya? Jika yah berarti kita mengkonsumsi produk gagal!

Namun ada hal yang saya anggap cukup menarik dari sajian Teater Ikat, yaitu bagaimana menjawab pertanyaan yang terjadi pada pekerja teater saat ini, yang merasakan di tinggal(berjarak) penontonnya (masyarakat), yah pertunjukan dengan genre seperti ini yang menampilkan kehidupan metropolis yang sering kita lihat juga di banyak medium penciptaan yang lain (walau hanya bersifat hiburan) saya rasa cukup pas dengan keadaan kebutuhan masyarakat kita saat ini, dimana budaya kitch (pop) meracuni pikiran masyarakat kita selama beberapa tahun terakhir. Walau tanpa dipungkiri sajian Teater Ikat ini harus melakukan proses eksperimen yang lebih teliti dan sabar sebelum dijadikan sebuah produk (karya), untuk mencipta idiom-idiom yang lebih tepat sasaran (wajib bertendensi), dan untuk harus di lakukan penge-tes-an lagi serta tidak lupa menyelesaikan masalah-masalah teknis yang di utarakan para pembahas dan penonton…

Pekerjaan rumah yang panjang dan akan melelahkan untuk Teater Ikat. Teruslah bereksperimen teman dan ciptakan sebuah penyegaran, perubahan yang visioner dengan caramu…

Jakarta, 17 Oktober 2009

Ahmad olie sopan

Lihatlah kawan

Hai, Kawan!
Lihatlah gugusan bintang yang tersembunyi dibalik mendung itu
indah bukan? Bak melati putih yang lelah bersaksi...

Kenapa kawan?
apa kau tak mampu menerawangnya?
biar ku sibak awan kelabu itu!
Ia indah kawan, hanya ada di langit katulistiwa,
memang tak se-ramai sakura di pelataran matahari
tapi ia saksi di sepanjang nusantara yang dahulu tangguh dan berwibawa...
saksi amukan breh, yang sekarang bernama tsunami
saksi kemarahan krakatau yang menimbulkan ketakutan ibukota
saksi keringat seniman-seniman pembangun keajaiban dunia
saksi pencurian jutaan mas warga papua
saksi Acungan tangan para pahlawan
saksi teriakan merdeka di seantero Nusantara

Sekarang Ia malu tuk bersaksi
bahkan Ia malu tuk tampak pada kita kawan,
coba kita lihat kawan, berapa banyak kesaksian yang ia lewatkan?
tentang pembantaian di bulan september
tentang "dewa" yang menapak nusantara di awal orde baru
tentang sawah yang berevolusi jadi industri
tentang rakusnya manusia modern
tentang matinya kawan-kawan mahasiswa,
tentang idola yang membelot
tentang kerushan di belahan timur indonesia
tentang lepasnya timor leste
tentang globalisai bagi warung kelontong, dan pengusaha kecil
tentang genitnya selebritis negara
yang lupa kalau istana akan punah!!!

sudahkah kau lihat kawan,
gugusan bintang katulistiwa itu,
yang selama ini tertutup awan kelabu atau kabut asap
yang mengepul dari kantong penguasa...

Jakarta, 18 Oktober 2009

Lebaranku!!!

Kapan lebaran?
Ktika swalayan diskon 70%.
Dan orang berlomba fashion.
Ktika jalan bebas hambatan macet total.
Ketika langit di kotori mercon.
Ketika kita rela brdesakan di gerbong,
tidur di balkon.

Klu itu smua brti lebaran,
berati tidak terjadi padaku!
Lalu kapan lebaran bagiku!

Jakarta, September 2009

Kau berhasil menghasutku...

setiap menyusuri rangkaian kata dalam baitpuisimu
kau haluskan jiwa
tapi juga kau paksa aku
melupakan rentetan angka-angka & logaritma

setiap teriakan khotbahmu
membanjiri telingaku dengan berjuta kegelisahan
tapi juga kau buat aku
melepaskan optik yang bergantungan kepalaku

setiap kubaca pikiran mu
kau yakinkan aku betapa benar isi hatiku
tapi juga kau hasut aku
tuk melupakan bahasa yang ku kuasai
bahasa yang kata sebagian orang sangat rumit
bahasa yang berbicara dengan cobol, basic dan pascal.
bahasa yang serumit pulau java...

Yah!
kau sudah berhasil menghasutku,
kau sudah berhasil menyeretku,
kau sudah berhasil membunuhku,

Yah!
kau sudah berhasil
Jadikan aku kata-kata indah,
kata-kata yang tak berasal lagi dari angka-angka

Jakarta, 14 Oktober 2009

Andai saja

Tak tahu lagi berapa banyak puisi lagi tuk cukup ungkapkan keresahan ini...
Tak tahu lagi berapa Tekstrur yang harus ku goreskan tuk gambarkan Kegelisahan ini..

Andai saja,
Alfabet itu bertambah huruf konsonan dan vokalnya...
Pasti hanya dengan satu puisi kaliankan ku tikam tajam dengan kata-kata baru.

Andai saja,
Wajah Bumi Melebar melebihi besarnya antarikasa,
Pasti Kanvas Ku tak pernah sepi lagi dgn warna baru

Jakarta, 9 Oktober 2009

Diriku saat ini

Kenapa Bulan tak pernah lagi tersenyum pada ku...
walau aku telah lebih memanjakanya daripada mentari...
Apa memang bulan tak mau lagi bertegur sapa dengan jiwaku...
Apa bulan tak ingin lagi meratapi pejalananku...
Kutunggu Engkau tiba setiap petang,
Dengan Asa dari seisi jiwa tuk kembali bertegur sapa...

Jakarta, 28 September 2009

Malam yang sombong

Kenapa Bulan tak pernah lagi tersenyum pada ku...
walau aku telah lebih memanjakanya daripada mentari...
Apa memang bulan tak mau lagi bertegur sapa dengan jiwaku...
Apa bulan tak ingin lagi meratapi pejalananku...
Kutunggu Engkau tiba setiap petang,
Dengan Asa dari seisi jiwa tuk kembali bertegur sapa...


Jakarta, Mei 2009

Malam

Cahaya bulan yang menyengat, melebihi warna malam...
Memaksa dan terus memaksa agar aku melupakan belaian Matahari...
Selamat tinggal denting...
selamat tinggal hari...
Kau balut aku dengan kain kapan waktu yang bercorak dosa dan pahala...
Semoga nisan berkelebat diantara para cahaya dalam memori anda semua...

Jakarta, April 2009

Sadar

Sadar-sadarilah, kamu hanya makhluk berkasta rendah,
tersisihkan dari kehidupan social, merekah belum pada waktunya,
mengkarbit otak dengan dosis berlebih!!!
Kamu yang sebenarnya tak mampu,
Diamlah!!!
Itu belum jadi hakmu!!!
Bersyukurlah jika setiap mentari membangunkan dari tidur,
Kamu tahu dia tetap mencintaimu…
Itu sdah cukup bagimu, itu adalah berkah terbaik dalam hidupmu…

bekasi, April 2008

Bujang Dewasa

lelah bujang menatap wajah "IBU",
di lika-liku jalan aspal berlubang
dan baja beralas koral...
Sambil menusuri yang wajah "IBU"
yang dihiasi para wanita berpakaian "Tuhan".
Si Bujang termenung lalu tersadar kemudian terluka...
Inikah ibuku yang dimimpi-mimpikan para bujang....

Rindu

Cahaya mentari,
Embun pagi,
Suara ayam jantan,
Yang melengking dipagi hari,
Mengalirkan gelombang alfa pada tubuh ini,
Melalui aliran darah,
memaksa mata tuk menerima kilau mentari
yang tak lagi menawan,
walau belum mampu memaksaku
untuk terjaga,
dan bercengkrama lagi
dengan waktu…

Namun kerinduanku padamu
yang melintasi syaraf,
mengliri darah bersama rasa madu
menuju otak dan memadatinya,
menggambarkan sejuta memori indah,
yang berkilau dari wajahmu,
lembut suaramu,
dan halus kulitmu,
sadarkan aku…
tuk mengejar waktu dan cinta…

16 April 2009 jam 23:35

Rindu 2

Malam semakin gelap
melenyapkan wajah-wajah kehidupan
dari benak ku,
Tak ada yang tersisa lagi
Cahaya dari rembulan
Yang semakin meninggi,..
Selain wajahmu di malam ini…

Jakarta, Juli 2009

Rindu 1

Air hujan menjebak semua pikiran ini
dengan pukat harimau,
Menghalau kenyatan yang ada,
yang harus kau pahami…
Menyatu dalam satu rangkaian yang berirama,
Dalam suatu pikiran
Tentang makhluk terindah di dunia fana ini…

26 Mei 2009 jam 3:25

Rantau

Bendungan air mata dalam hati,
Terpancar dalam kanvas wajahmu,
Pasir pantai dikakimu,
Menahan langkah kaki mu,
Yang penuh harap baru,
Deru suara kapal belum juga berbunyi,
Masih menunggu keputusanmu,
Tuk membawamu pergi jauh,
Meninggalkan goresan masa lalu
Di dalam kalbu,
Mengharap hidup baru,
Di dekapan IBU Kota baru…

Jakarta, November 2008

Ratapan Luka Ibu

Melihat ekspresi wajah-wajah itu,
Mendengarkan teriakan
Dari menara-menara itu,
Menyentuh goncangan
Dari kelelahan tubuh-tubuh itu,
Dengan rasa mereka yang telah mati…
Banyak benci dalam benak ini,
Dengan jijik dan pandangan sinis,
Berjuta persepsi…


Pergi…pergi…pergi…
Jangan racuni pikiran ini…

Cukup…cukup…cukup…
Dengan KINI ku merasa hidup ini penuh arti!!!

Terpuruk

Tidakkah kau merasa???
Apa aku yang terlalu peka?
Atau karena aku!?
“Manusia” yang tidak pernah puas dan ambisius,
Aku menjadi seperti ini!?

Akupun merasa aneh dengan diriku,
Di tangan ku tergenggam sebuah kebahagiaan!
Namun ruang difikirku seperti hampa tak berudara,
Penuh sesak dengan harapan yang mustahil tanpa mukjizat!
Tubuh yang terbaring dengan cinta disampingku,
tak mampu sadarkan aku dari fikiran ini!!!

Benarkah aku sendiri?
Ketika engkau ada didekapanku!
Ketika matamu menatap Aku!
Ketika suaramu melantunkan kata-kata mesra!
Ketika bercengkrama dengan teman sejawat!
Ketika berada diantara ribuan makhluk MU!

Apa kabar wajah-wajah itu?
Yang pernah tumbuhkan hasrat!
Yang pernah buat aku merasa hidup di alam MU ini!
Yang yakinkan aku!
Yang mendorongku!
Yang sadarkan aku dari tidur sebelum makhluk lain terbangun!
16 April 2009 jam 22:58

Doa anak Adam (permohonan)

Wajah karismatik, semangat, motivasi, kepercayaan diri, keyakinan, tujuan, harapan yang besar!
Walau ku jelajahi dari ujung selatan hingga utara,
Ku kais hingga perut bumi,
ku terawang hingga ujung langit,
ku daki sebiru gunung,
hanya kesia-siaan yang ada,
tak akan dapat aku menemukan sosok itu,
itu hanya ada di mimpi ku!
Apa ENGKAU telah lelah mencipta makhuk seperti itu?
atau ENGKAU telah bosan ketika tercipta hanya sesaat sosok itu menjadi teladan?
Atau ENGKAU sedang bersiap-siap menjalankan Janji MU yang tak lagi di hiraukan oleh mereka?
Aku disini berharap ENGKAU masih memberi kesempatan!
Aku memiliki harapan, tujuan, keyakinan,motivasi, semangat itu,
tapi Aku tak percaya diri dengan segala kekurangan dan kesendirian ini!!! Kesadaran ku ini memaksa aku untuk memohon pada MU, ciptakan sosok itu bagi umatmu!


Jakarta, Juli 2008

Putaran Zaman

Wahai Adam, sekarang aku melihat kenyataan,
bukan dongeng lagi!
apa yang pernah Engkau alami pada anak-anakmu.
Dalam fantasi, aku bayangkan betapa besar amarahmu waktu itu,
Dan ketakutanmu pada sang Adil
Namun kini itu mereka anggap SAH,
Dengan mengatasnamakan CINTA...

Wahai Yusuf, betapa keraskah kau menentang?
Apa yang terjadi pada kaummu waktu itu?
Sekuat apakah batinmu melihat itu?
Bagaimana kau emban amanat dari DIA?
Namun kini itu bukan hal yang tabu lagi,
Mereka anggap itu CINTA, dan jadi trend!!!

Aku pun hanya mampu menjadi penonton!


Jakarta, Agustus 2008

Bujang kecil

Jauh ibu mengajak bujang mencari “ibu baru”,
Harapan ibu kelak bujang dapat “ibu baru”,
Bujang malu melihat wajah “ibu baru”,
Bujang tak mampu menghadapi “ibu baru”,
Diusianya yang masih butuh susu ibu,

Kamis, 15 Oktober 2009

Kaum ku

Kami tersisihkan dari zaman,
Atau kami yang menghindar dari zaman
Sebab zaman telah membuat manusia menjadi sebuah komoditi yang menguntungkan, sedang kami, manusia yang berjarak dengan “TUHAN” zaman ini harus mendekatinya dengan cara yang jorok, menjijikan, najiz dan haram.

Lengking tangis anak kami yang telah mengetarkan isi langit, namun tak mampu mengetuk pintu hati mereka!

Kota

Kota sebuah impian
Kota, Harapan
Kota, Tujuan
Kota, Janji
Kota, Khayalan

Kota adalah Keindahan
Kota, keadilan
Kota, Kejayaan
Kota, Kemewahan
Kota, Kebahagiaan

Kota, akhir zaman
Impian dari akhir kehidupan
Harapan bagi akhir kehidupan
Tujuan akhir kehidupan
Janji sebuah kehidupan
Janji setelah kehidupan
KOTA hanyalah sebuah khayalan
Kota yang penuh keindahan,
Keadilan,
Kejayaan,
Kemewahan,
Kebahagiaan,
Hanya mampu digambarkan

Perantau

Mata layu, tubuh lemas
Pada pukul 11 pagi

Matahari meninggi
Memancarkan sinarNya
Lewat lubang pentilasi
Memberi arti, menyirat hati,
Menunggu hari berganti

Petang tiba
Memberi semangat, lewat teduh cuaca
Apa mungkin Ia bangkit
Hanya dengan seteguk air putih

Hrapan tinggi
Impian tinggi
Anggan tinggi 3 tahun yang lalu
Ketika pertama kali
Menginjakan kaki
Di pasir palsu Tanjung Priuk

Rezeki PSK

Muka tebal, masih segar
Gambar muram jadi sketsa di wajah
Lebih dari 110 kendaraan lalu-lalang permenit,
Mengoda dengan polusinya

Bertambah tebal, terlihat samar
Cahaya bersinar tergambar rupiah
Beribu kendaraan yang melintas,

Pejalan kaki yang memberi solusi.