Pada dasarnya sebuah karya haruslah bertendensi, atau dapat juga saya katakan hasil dari sebuah karya harus revolusioner dalam merubah cara berpikir publik terhadap situasi budaya, sosial & politiknya. Untuk itu para pekerja seni haruslah meyakini dahulu bahwa karyanya adalah sebuah kebenaran, yang dapat ditemukan dalam proses.
Lalu bagaimana cara menghasilkan karya yang revolusioner? Jawabannya yah tentu proses penciptaan karya itu sendiri. Dan “eksperimentasi” adalah sebuah cara yang tepat untuk menghasilkan sebuah karya yang revolusioner, yang dimana Federasi Teater Indonesia (FTI) saat ini mencoba memfasilitasi para seniman yang sedang bereksperimentasi untuk menghasilkan sebuah karya (yang diharapkan oleh Federasi Teater Indonesia memiliki visioner pada masyarakat).
Labo teater Federasi Teater Indonesia yang telah terlaksana 4 (empat) kali, hingga saat ini belum menghasilkan apa-apa bagi saya! Apa yang salah? Kesalahan mungkin dari pemahaman para teman-teman seniman (teaterawan), yang kurang mengerti tentang konsep eksperimentsi atau FTI sebagai fasilitator kurang sosialisai (tapi wacana ini pernah juga dihabas dalam sebuah forum FTI).
Mungkin pada kesempatan ini saya akan coba paparkan pemahaman tentang konsep eksperimentasi (Labo) yang saya pahami dalam proses kerja di sebuah laboratorium. Dimana calon pencipta (ilmuwan, seniman, dll) memiliki kegelisahan terhadap sebuah realitas (pada titik nadir) yang di lihat dan berusaha mencari solusi dengan cara melakukan riset pengumpulan data dengan cara observasi (hal yang lumrah dilakukan para seniman) untuk dapat melihat secara detail realitas yang sebenarnya, kemudian hasil riset itu diteliti secara seksama untuk mendapatkan sebab terciptanya realitas itu. Setelah penyebab realitas itu ditemukan tugas selanjutnya adalah mencari ramuan-ramuan dari berbagai peradaban untuk dijadikan sebuah racikan yang mujarab dalam mengatasi realitas tersebut. Tidak sampai disitu, sebelum racikan itu di konsumsi publik sebagai sebuah kebenaran harus juga dilakukan penge-tes-an oleh para ahli juga untuk mendukung kebenaran yang kita buat (pada titik inilah Labo FTI seharusnya dilakukan). Cukup mudah bukan? walau memang butuh ketelitian dan kesabaran yang panjang!
Lalu bagaimana dengan eksperimentasi yang dilakukan Teater Ikat 316 dalam Labo FTI yang terakhir kali, kemarin malam? Dalam sesi pembahasan setelah pertunjukan yang menghadirkan Udin mandarin dan Madin Tyasawan banyak membahas masalah yang masih teknis pembuatan karya (memang menjadi pekerjaan rumah bagi FTI dalam menentukan peserta), bukan menguji eksperimentsi yang sedang dilakukan untuk dinyatakan kebenarannya, mungkin memang jauh untuk dari titik penge-tes-an, yah karena menurut pengamatan saya penyajian Teater Ikat baru pada tahap kegelisahan, dimana disampaikan juga pada sinopsis yang dibagikan. Hingga tidak salah jika para pembahas dan penonton yang memberi komentar masih berbicara masalah teknis, yang juga dijawab dengan rendah hati oleh sutradara bahwa ini kekurangan pengalaman dan para hadirin pun akan memaklumi lalu apa akan ada lagi pemakluman jika ini sudah berlabel sebuah karya? Jika yah berarti kita mengkonsumsi produk gagal!
Namun ada hal yang saya anggap cukup menarik dari sajian Teater Ikat, yaitu bagaimana menjawab pertanyaan yang terjadi pada pekerja teater saat ini, yang merasakan di tinggal(berjarak) penontonnya (masyarakat), yah pertunjukan dengan genre seperti ini yang menampilkan kehidupan metropolis yang sering kita lihat juga di banyak medium penciptaan yang lain (walau hanya bersifat hiburan) saya rasa cukup pas dengan keadaan kebutuhan masyarakat kita saat ini, dimana budaya kitch (pop) meracuni pikiran masyarakat kita selama beberapa tahun terakhir. Walau tanpa dipungkiri sajian Teater Ikat ini harus melakukan proses eksperimen yang lebih teliti dan sabar sebelum dijadikan sebuah produk (karya), untuk mencipta idiom-idiom yang lebih tepat sasaran (wajib bertendensi), dan untuk harus di lakukan penge-tes-an lagi serta tidak lupa menyelesaikan masalah-masalah teknis yang di utarakan para pembahas dan penonton…
Pekerjaan rumah yang panjang dan akan melelahkan untuk Teater Ikat. Teruslah bereksperimen teman dan ciptakan sebuah penyegaran, perubahan yang visioner dengan caramu…
Jakarta, 17 Oktober 2009
Ahmad olie sopan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar