Senin, 26 Oktober 2009

Pertanyaan terakhir buat kamu

kecepatan bis yang kutumpangi sudah sampai pada batas maksimalnya di jalan bebas hambatan, tapi tidak secepat tempo-ritme batinku saat ini yang sedari malam bergejolak kencang. Semenjak beberapa tahun lalu aku tidak pernah menumpangi bis lagi di pagi hari seperti ini, seperti waktu kuliah dulu, entah sudah berapa lama, mungkin tahunan! Yah rutinitasku berubah 180 derajat semenjak memilih hidup sebagai seniman seperti saat ini. Terlihat kembali dengan jelas wajah-wajah orang dalam bis ini yang berpenampilan perlente yang tak lain para pegawai (wajah-wajah yang tak lebih dari sekedar angka) yang sedang menuju perkantoran di kawasan sudirman dan sekitarnya, mungkin hanya aku yang terlihat aneh, dengan setelan jeans butut, kemeja hitam, rambut gondrong dan wajah kucel setelah semalaman tidak bias tidur dan menangis. Yah menangis! Mungkin hingga saat ini aku masih menangis walau hanya di hati, setelah pesan singkat semalam yang tidak mau di akhiri dengan percakapan yang baik.
Sepanjang perjalalan mataku menerawang terus ke jalan tol dalam kota itu dimana ribuan kendaran roda empat dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam itu saling berkejaran dengan matahari yang sudah tak sabar lagi menampakan wajahnya disela-sela gedung pencakar langit. Disela-sela perhatianku pada pemandangan itu melintas sebuah mobil kijang kapsul berwarna silver yang tak asing lagi dipikiranku, yah mobil itu mobil ayahnya yang selalu menghalangi motorku untuk parkir di depan rumah dia. Kuperhatikan dengan jelas setiap sudut mobil itu, tuk memastikan penglihatanku, kuterawang ke balik kacanya, yah betul itu mobil ayahnya dan dia berada di dalam mobil itu duduk dengan wajah tertunduk di samping pengemudi yang tak lain ayahnya itu, dan tidak lama kemudian menghilang ditelan kecepatan arus bersama kendaraan-kendaraan yang lain, namun kecepatan bis yang ku tumpangin ini serasa semakin melambat…oh rasanya ingin ku gantikan supir bis ini dan melajukan angkutan massal ini lebih cepat sehingga mampu menyusul mobil itu.
Sesampai nya di tempat tujuan aku langsung mengirimkan sms kepada dia dan katakan kalau aku berada di depan kantornya dan meminta dia untuk turun menemuiku. Kemudian ku mulai menghitung detak jantung yang mulai ku atur agar tidak emosi saat pertemuan nanti. Sudah 30 menit berlalu dan beberapa sms yang mengatakan aku tak akan pulang sebelum bertemu dia dan telp yg tidak diangkat-angkat aku layangkan lagi kepadanya namun tetap tidak ada yang menampakan wajahnya di depanku. Tiba-tiba suara HP ku berbunyi, pasti sms balasan dari dia cepat-cepat kubaca “ak msh di tol maaf, td ak tdr di mbl n ga tau ada sms dr km. mang mau apa lagi sih? kan smlm dah ak jlasin klu ak ga mau bhas ini dulu. yah dah tngg bntar lg ak ampe”. Kalimat yang janggal untuk sebuah solusi dan penglihatanku satu jam yang lalu di bis, -dia berbohong- walau tidak mematahkan semangatku untuk tetap menunggu.
Memang tidak lama kemudian dia hadir di hadapanku, namun kehadirannya hanya untuk mengucap beberapa kalimat singkat “aku ngak mau bahas masalah ini sekarang, aku pusing, sebaiknya kamu pulang sekarang, jangan bertindak bodoh seperti ini” kalimat yang janggal lagi! untuk sebuah solusi dari pertanyanku, namun aku turuti perkataannya, yah kuturuti kareana hatiku selalu luluh setiap melihat wajahnya apalagi dengan raut wajah berkabut seperti itu.
Dengan langkah gontai aku berjalan meninggalkan dia, entah mau kemana, rasanya aku ingin menyendiri, menceritakan segala kegundahan ini dan bertanya kepaada semesta apa semuanya berakhir seperti ini? Apa semua rencanaku yang telah diketahui hampir semua kolega dan keluargaku harus kandas sampai sini? Apa janji-janji hidup bersama yang terlontar beberapa waktu yang lalu hanya bohong belaka? Apa permintaan keluarganya bebapa hari yang lalu, hanya karangan belaka? Dan ku terus berjalan tanpa tujuan, tanpa akhir yang jelas, yah tanpa akhir yang jelas bahkan dalam kehidupanku selanjutnya.
Karena masih banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak dapat aku jawab dengan akal ini, semua yang tidak pernah nyata ini…

Jakarta, 25 september 2009

Tidak ada komentar: