menyaksikan pertunjukan teater 7-an (program DKJ) yang kali ini menampilkan Teater FaTaRia dari STAIN Pamekasan-Madura, dengan "lakon Anjing Ibu Bernama Popy", berharap mendapatkan kesan yang bisa saya bawa pulang dan menyegarkan otak saya yang haus dengan pertunjukan dengan jenis pendekatan eksplorasi seperti (teater kubur, bandar teater jakarta, lab teater syahid, dll.). sayangnya tidak berhasil mentahlukan energi yang saya bawa pada hari ini, setelah menghadiri diskusi di rumah darmint, dan latihan teater juga.
pada awal pertunjukan seorang pemain masuk dengan bentuk tubuh membungkuk yang saya tafsir sebagai "anjing", tapi anjing yang bagaimana? karena setelah itu datang lagi seekor anjing yg berkarakter homo seksual (bukankah kaum homo seksual identik dengan "kucing"). saya rasa sang sutradara harus memikirkan dengan matang terhadap idiom yang dia tampilkan, pemilihan "anjing" sebagai idiom dapat menghancurkan pertunjukan. dalam sinopsis pertunjukan saya menangkap bahwa semua manusia khususnya daerah madura, tempat awalnya kegelisahan itu muncul adalah "anjing",sekali lagi saya lontarkan pertanyaan kepada sutradara dan teman-teman dr STAIN kenapa memilih idiom anjing? anjing yang anda tampilkan anjing yang saya lihat waktu kecil, Karena sekarang persepsi saya terhadap anjing telah berubah anjing. seperti salah satu riwayat yang saya dengar (kebetulan saya muslim), bahwa ada seorang sahabat yang memiliki anjing yang sangat setia pada dia, dan anjing itu dimasukan surga oleh tuhan. satu lagi persepsi saya entah benar atau salah kalau tidak semua anjing itu jika kelaparan kembali ke tempat sampah!
akhirnya bagi saya pertunjukan yang berlangsung kurang-lebih 1 jam itu terasa sangat menyiksa saya (saya seperti menyaksikan pertunjukan 3 jam), flot yang dibuat harus saya telaah ulang setiap ada pergantian adegan dengan permainan lampu yang meriah (juga black out yang cukup sering), kadang juga memaksa saya untuk memejamkan mata karena lelah(ingin mencoba menyaksikan pertunjukan yang di buat khusus orang buta), karena indera pendengaran saya sangat sulit untuk memanfulasi apa yang saya dengar dibandingkan dengan mata ini.
setelah pertunjukan selesai seperti biasa ada diskusi yang dilaksanakan, namun diskusi itu kurang pedas bagi saya terutama apa yg di ungkapkan oleh salah seorang audiens (Bpk. Norman) yang terlalu memuji. seandainya bapak adalah salah satu citivas kampus & pegiat/pecinta teater, bapak seharusnya menyaksikan pertunjukan teman-teman mahasiswa dalam FESTAMASIO (Festival Teater Mahasiswa Nasional) IV di Teater kecil Awal maret kemarin. anda pasti akan mendapatkan suasana yang lebih fresh dengan gagasan teman-teman yang liar dan juga menarik, dibanding pertunjukan malam tadi. dalam diskusi semalam saya sebenarnya sangat berharap Mas Dindon bicara, karena beliau sangat mengikuti perkembangan teman-teman mahasiswa, dan dapat membuka tabir negatif terhadap teater kampus. karena mas dindon menjadi salah seorang juri dalam FESTAMASIO IV kemarin.
Untuk itu bagi Dewan kesenian Jakarta khususnya Komite Teater, seleksilah proposal para calon peserta dengan teliliti, karena pulangnya saya ke rumah tidak membawa kesan apa2 dari pertunjukan tersebut, melainkan sakit kepala yang sangat, karena dunia yang saya geluti menjadi seperti ini...
blog ini dibuat sebagai ruang untuk proses kreatif saya, buku harian, dan ruang bagi saya untuk dapat belajar berbicara dan juga mencipta, juga tuk dapat menerima masukan dari semua orang, dalam menganggapi pemikiran-pemikiran saya... blog ini juga berfungsi untuk menjaga eksistensi manusia di dunia ini, yang terancam kepunahan...
Sabtu, 28 Maret 2009
Kualitas Teater 7-an
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar